KONSEP ILMU PENGETAHUAN LOKAL DALAM LEKSIKON PENANDA WAKTU DAN MUSIM SUKU DAYAK MERATUS [The Indigenous Knowledge Science Lexicon Marking the Time and Season of the Meratus Dayak Tribe]

Authors

  • Hestiyana Hestiyana Balai Bahasa Kalimantan Selatan

DOI:

https://doi.org/10.26499/ttbng.v9i2.306

Keywords:

lexicon, time and season marker, Meratus Dayak, leksikon, penanda waktu dan musim, Dayak Meratus

Abstract

This study aims to describe the indigenous science in the lexicon of time and season markers by the Meratus Dayak tribe. The method used in this research is descriptive qualitative ethnolinguistic approach. The data in this study are lexicon markers of time and season spoken by the Meratus Dayak tribe who reside in the Balangan Regency, namely Meratus Balangan Dayak, especially traditional leader  and balian. Meanwhile the data collection techniques used were participant observation, listening techniques, and record techniques. Data analysis includes: (1) transcribing data obtained through the results of records and records; (2) identifying time and season marker data; (3) classifying data according to lingual form and lexicon function; and (4) analyze and conclude. Based on the results of the analysis it was found that the concept of local science in the lexicon markers of time and season can be classified into two: (1) based on the lingual form and (2) based on the function of the lexicon. The concept of local science is based in the lingual form: first, the lexicon marking the time and season of tangible words which a total of 30 lexicons. Second, lexicons marking the time and season in the form of phrases that include noun caterogical phrases, verb categorized phrases, and numeralia categorized phrases with a total of 21 lexicons. Then, the concept of local science based on the function of the lexicon, among others: (1) the function of the daily time lexicon is as much as 19 lexicon and (2) the time and season lexicon functions with a larger unit of 20 lexicon. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan konsep ilmu pengetahuan lokal dalam leksikon penanda waktu dan musim oleh suku Dayak Meratus. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan etnolinguistik. Data dalam penelitian ini berupa leksikon penanda waktu dan musim yang dituturkan oleh suku Dayak Meratus yang bertempat tinggal di wilayah Kabupaten Balangan, yakni Dayak Meratus Balangan, terutama tokoh adat dan balian. Adapun, teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi partisipan, teknik simak, dan teknik rekam. Analisis data meliputi: (1) mentranskripsikan data yang diperoleh melalui hasil catatan dan rekaman; (2) mengidentifikasi data penanda waktu dan musim; (3) mengklasifikasikan data sesuai dengan bentuk lingual dan fungsi leksikon; dan (4) menganalisis dan menyimpulkan. Berdasarkan hasil analisis ditemukan bahwa konsep ilmu pengetahuan lokal dalam leksikon penanda waktu dan musim dapat diklasifikasikan menjadi dua: (1) berdasarkan bentuk lingual dan (2) berdasarkan fungsi leksikon.  Konsep ilmu pengetahuan lokal berdasarkan bentuk lingual: pertama, leksikon penanda waktu dan musim berwujud kata yang meliputi nomina, verba, dan numeralia dengan jumlah keseluruhan 30 leksikon. Kedua, leksikon penanda waktu dan musim berwujud frasa yang meliputi frasa berkategori nomina, frasa berkategori verba, dan frasa berkategori numeralia dengan jumlah keseluruhan 21 leksikon. Kemudian, konsep ilmu pengetahuan lokal berdasarkan fungsi leksikon, antara lain: (1) fungsi leksikon penanda waktu harian sebanyak 19 leksikon dan (2) fungsi leksikon penanda waktu dan musim dengan satuan yang lebih besar sebanyak 20 leksikon.

References

Chaer, Abdul. (2007). Leksikologi dan Leksikografi Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta.

Darheni, Nani. (2010). “Leksikon Aktivitas Mata dalam Toponim di Jawa Barat: Kajian Etnosemantik”. Jurnal Linguistik Indonesia, 28(1), 55—67.

Dewi, Aprilia M. (2014). “Leksikon Penunjuk Waktu dan Satuan Waktu dalam Bahasa Sunda di Kecamatan Kasomalang, Kabupaten Subang”. Bahtera Sastra: Antologi Bahasa dan Sastra, No. 1 Agustus 2014. Diunduh di ejournal.upi.edu, tanggal 25 Februari 2020.

Djajasudarma, Fatimah. (2012). Semantik 1 Makna Leksikal dan Gramatikal. Bandung: Refika Aditama.

Foley, William A. (2001). Anthropological Linguistics. Massachusetts: Blackwell Publisher Inc.

Goddard, Cliff & Wierzbicka, Anna. (2014). Words & Meanings: Lexical Semantics Across Domains, Languages, and Cultures. Oxford: Oxford University Press.

Hartatik. (2017). Jejak Budaya Dayak Meratus dalam Perspektif Etnoreligi. Yogyakarta: Ombak.

Hurford, J.R & Brendan Heasley. (1984). Semantic: A Coursebook. Cambridge: Cambridge University Press.

Indra, Indrayani & Ahmad Herman. (2019). Pusaka Bakuda Budaya Banjar, Kutai & Dayak. Banjarbaru: Penakita Publisher.

Khak, Abdul, dkk. (2012). Teroka Bahasa: Untaian Artikel Kebahasaan di Media Massa. Bandung: Balai Bahasa Jawa Barat.

Kridalaksana, Harimurti. (2011). Kamus Linguistik. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Mahsun, M.S. (2013). Metode Penelitian Bahasa: Tahapan Strategi, Metode, dan Tekniknya. Jakarta: RajaGrafindo Persada.

Moleong, Lexy J. (2011). Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Mounin, George. (2003). Dictionnaire de la Linguistique. Paris: Press Universitaire de France.

Nabiring, Eter. (2013). Kamus Populer Dayak Balangan. Balangan: Dewan Adat Dayak Balangan.

Pujileksono, Sugeng. (2016). Pengantar Antropologi Memahami Realitas Sosial Budaya. Malang: Intrans Publishing.

Rahyono, F.X. (2009). Kearifan Budaya dalam Kata. Jakarta: Wedatama Widya.

Raudloh, Siti. (2012). “Leksikal Penanda Ukuran Waktu Bahasa Jawa pada Masyarakat Desa Klopoduwur, Kecamatan Banjarejo, Kabupaten Blora, Jawa Tengah”. Jurnal Mabasan, 6(2), 46—59.

Sahril. (2020). “Leksikon Ikan dalam Sampiran Pantun Melayu”. Jurnal Totobuang, 8(1), 149—163.

Setiawan, Teguh. (2015). Leksikografi. Yogyakarta: Ombak.

Subroto, Edi. (2011). Pengantar Studi Semantik dan Pragmatik. Surakarta: Cakrawala Media.

Sudaryanto. (2015). Metode dan Aneka Teknik Analisis Bahasa Pengantar Penelitian Wahana Kebudayaan secara Linguistis. Yogyakarta: Sanata Dharma University Press.

Suktiningsih. (2016). “Leksikon Fauna Masyarakat Sunda: Kajian Ekolinguistik”. Jurnal Retorika, 2(1): 138—156.

Tim Redaksi. (2009). Tesaurus Alfabetis Bahasa Indonesia. Jakarta: Pusat Bahasa.

Wierzbicka, Anna. (1997). Understanding Cultures through Their Key Words: English, Russian, Polish, German, and Japanese. New York: Oxford University Press.

Wijana, I Dewa Putu. (2015). Pengantar Semantik Bahasa Indonesia. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Wua, Haris & Marwati. (2019). “Leksikon Penunjuk Waktu dalam Bahasa Muna (Kajian Etnolinguistik)”. Jurnal Pendidikan Bahasa, 8(1), 22—31.

Downloads

Published

2021-12-22

How to Cite

Hestiyana, H. (2021). KONSEP ILMU PENGETAHUAN LOKAL DALAM LEKSIKON PENANDA WAKTU DAN MUSIM SUKU DAYAK MERATUS [The Indigenous Knowledge Science Lexicon Marking the Time and Season of the Meratus Dayak Tribe]. TOTOBUANG, 9(2), 211–224. https://doi.org/10.26499/ttbng.v9i2.306

Most read articles by the same author(s)

Obs.: This plugin requires at least one statistics/report plugin to be enabled. If your statistics plugins provide more than one metric then please also select a main metric on the admin's site settings page and/or on the journal manager's settings pages.