LEKSIKON IKAN DALAM SAMPIRAN PANTUN MELAYU [Fish Lexiconin Sampiranof Malay Pantun]

Authors

  • Sahril - Balai Bahasa Sumatera Utara

DOI:

https://doi.org/10.26499/ttbng.v8i1.202

Keywords:

fish lexokon, sampiran of pantun, leksokon ikan, sampiran pantun

Abstract

Damaging the environment and high level of fish exploitation are feared for the extinction of fish habitats. The extinction of fish habitat resulted to the extinction of local languages. In the context of tradition, the preservation of ecological lexicon, one of which is found on sampiran of the pantun. This study discusses the existence of fish lexicon contained in the pantun’s sampiran. The purpose of this study is  examining the level of survival of the Malay language of Barus related to the fish lexicon. The threat of this research uses ecolinguistic theory. The method used is a mixed research method between quantitative and qualitative research methods. Based on the research data, there are 10 fresh water fish lexicon and 30 sea fish lexicon originating from 40 pantun’s couplet. From 40 respondent’s answers, it is known that the marine fish lexicon is in the defensive category, slightly decreasing, that is 23.3%. Meanwhile, the freshwater fish lexicon is classified as threatened.Rusaknya lingkungan dan tingkat eksploitasi ikan yang tinggi dikuatirkan akan berdampak pada punahnya habitat ikan. Konsekuensinya itu juga berdampak pada punahnya bahasa lokal. Pada konteks tradisi, pelestarian leksikon ekologi, salah satunya terdapat pada sampiran pantun. Penelitian ini membahas keberadaan leksikon ikan yang terdapat pada sampiran pantun. Tujuan penelitian adalah untuk mengkaji tingkat kebertahanan bahasa Melayu Barus berkaitan dengan leksikon ikan. Ancangan penelitian ini menggunakan teori ekolinguistik. Metode yang digunakan adalah metode penelitian gabungan (mixed methods) antara metode penelitian kuantitatif dan kualitatif. Berdasarkan data penelitian terdapat 10 leksikon ikan air tawar dan 30 leksikon ikan laut yang berasal dari 40 bait pantun. Dari 40 jawaban responden diketahui bahwa untuk leksikon ikan laut berada dalam kategori bertahan, sedikit mengalami penurunan, yaitu 23,3%. Sementara untuk leksikon ikan air tawar masuk pada kategori terancam.

Author Biography

Sahril -, Balai Bahasa Sumatera Utara

SahrilPeneliti Ahli Muda Balai Bahasa Sumatera Utara

References

Aji, Dwi Cahyono, Suhandano, dan Fernandez, Inyo Yoz. (2018). Leksikon Timug ‘Air’ dalam Pengetahuan Folk Nelayan Tidung: Studi Etnolinguistik. Hibualamo: Seri Ilmu-Ilmu Sosial dan Kependidikan, 2(2), 12-20.

Aji, Dwi Cahyono. (2010). Leksikon ethno-fishery dalam kearifan lokal suku Bugis di Tarakan, Kalimantan Timur (Sebuah kajian etnolinguistik).Adabiyyāt: Jurnal Bahasa dan Sastra, 9(2), 272-293.

Aminah, Haji Noor. (2006). Pantun Melayu: Warisan Bangsa. Kuala Lumpur: Iqra' Publications.

Cresswell, J. W., & Plano Clark, V. L. (2011). Designing and conducting mixed method research. 2nd Sage. Thousand Oaks, CA, 201.

Creswell, J. W. (1994). Research Design: Quantitative and Qualitative Approach.London: Sage.

Creswell, J. W. (2009). Research design: Qualitative and mixed methods approaches. London and Thousand Oaks: Sage Publications.

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. (1993). Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Dillon, D. (2010). “People, environment, language and meaning: values in nature and the nature of values”. Language and Ecology, vol. 3(2), 1-10.

Fill, A. (1993). Ökolinguistik. Eine Einführung: Tübingen.

Fill, Alwin and Peter Mühlhäusler (Eds.). (2001). The Ecolinguistik Reader. Language, Ecology, and Environment. London and New York: Continum.

Fromkin, V., R. Rodman, P. Collins dan D. Blair. (1990). An Introduction to Language. Sydney: Holt, Rinehart and Winston.

Guillot, C. (2002). Lobu Tua, Sejarah Awal Barus (Vol. 1). Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Haugen, Einar. (1972). The Ecology of Language. Stanford, CA: Standford University Press.

Klinkert, H. C. (1868). Iets over de Pantons of Minnezangen der Maleijers. Bijdragen tot de Taal-, Land-en Volkenkunde van Nederlandsch-Indië, 15(1/2de Afl), 309-370.

Lechevrel, N. (2009). The Interwined History of Ecolinguistics and Ecological Approaches of Language(s). Denmark: Odense Institute of Language and Communication. http://hal.archives-ouvertes.fr/docs/0041/3983/PDF/History_of_ecological_approaches.pdf. diakses 18/02/2020

Mbete, A.M. dan Abdurahman Adisaputera. (2009). Penyusutan Fungsi Sosioekologis Bahasa Melayu Langkat pada Komunitas Remaja di Stabat, Langkat. Dalam Disertasi USU, 2009.

Mbete, Aron Meko. (2011). Ilmu Bahasa, Lingkungan Bahasa dan Bahasa Lingkungan”. Bahan matrikulasi bagi karya siswa Program Magister Linguistik. Denpasar. Program Pascasarjana UNUD.

Mbete, Aron Meko. (2008). Ekolinguistik: “Perspektif Kelinguistikan yang Prospektif”. Bahan Kuliah Matrikulasi Program Magister Linguistik, Program Pascasarjana Universitas Udayana.

Mbete, Aron Meko. (2009). “Problematika Keetnikan dan Kebahasaan dalam Persfektif Ekolinguistik”. Makalah Disampaikan dalam Seminar Nasional Budaya Etnik III, Diselenggarakan oleh USU, Medan 25 April 2009.

Nash, J. (2013). "Insular Toponymies: Pristine Place-naming on Norfolk Island, South Pacific and Dudley Peninsula, Kangaroo Island, South Australia". Amsterdam: John Benjamins.

Neuman, B. (1990). The Neuman systems model: A theory for practice. ME Parker (Ed.), Nursing theories in practice, 241-261.

Patton, Michael Quinn. (1990). Qualitative Evaluation and Research Methods (2nd ed.). Washington: Sage Publications, inc.

Pijnappel, J. (1883). Over de Maleische pantoens.

Rahardjo, Mudjia. (2004). Language and Power: “A Close Look at Critical Sociolinguistics”. www.mudjiarahardjo.com. Diakses 21 Februari 2020.

Renjaan, M. R. (2018). Leksikon Bahasa Kei dalam Lingkungan Kelautan: Kajian Ekolinguistik. Linguistika: Buletin Ilmiah Program Magister Linguistik Universitas Udayana, 21.

Richards, J. C., J. Platt dan H. Platt. (1992) Dictionary of Language Teaching & Applied Linguistics. Essex: Longman.

Sahril. (2016). Unsur Flora dalam Sampiran Pantun. Makalah pada Seminar Tradisi Lisan 2016 yang diselenggarakan oleh Balai Bahasa Yogyakarta.

Sahril. (2016). Unsur Flora dalam Sampiran Pantun Suatu Kajian Ekolinguistik. Dalam http://sahril1965.blogspot.com/2016/04/unsur-flora-dalam-sampiran-pantun-suatu.html

Sallabank, J. (2010). "Endangered language maintenance and revitalisation: the role of social networks". Anthropological Linguistics, vol. 52(3), 184-205.

Sari, Mira Yunika, Muzammil, Ahmad Rabi’ul, dan Syahrani, Agus. (t.t.) Khazanah Leksikon Kelautan dalam Bahasa Melayu Dialek Sukadana. Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran, 8(3), 1-10.

Sibarani, R. (1997). Leksikograf. Medan: Penerbit Universitas Sumatera Utara.

Siregar, Bahren Umar, dkk. (1998). Pemertahanan Bahasa dan Sikap Bahasa. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.

Sitanggang, Green Fanny, Nurlela, dan Widayati, Dwi. (2018). Leksikon-Leksikon Bidang Kelautan Sibolga: Kajian Ekolinguistik.Jurnal Stindo Profesional, 4(4), Mei 2018, 15-29.

Subiyanto, A. (2013). Ekolinguistik: model analisis dan penerapannya. Humanika, 18(2).

Sugiyono. (2013). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R & D. Bandung: Alfabeta.

Sumarsono. (1995). Diglosia Bahasa Melayu Loloan di Bali. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.

Tanjung, I. L. (2016). Antara Orang Pasisir dan Orang Batak di Tapanuli: Kesadaran Identitas Etnik di Barus dan Sibolga, 1842-1980-an (Doctoral dissertation, Universitas Gadjah Mada).

Taylor, S. J. dan R. Bogdan. (1984). Introduction to Qualitative Reserach Methods:The Search for Meaning. New York: John Wiley and Sons.

Warami, Hugo. (2013). “Khazanah Pengetahuan Lokal Etnik Waropen-Papua: Studi Awal Ekolinguistik”. Dalam Langua: Journal of Linguistic Research, Vol. 2 Agustus 2013. Medan: Lembaga Ekolinguistik.

Wilkinson, R. J., & Winstedt, R. O. (1961). Pantun Melayu (Vol. 12). Malaya Publishing House.

Downloads

Published

2020-06-29

How to Cite

-, S. (2020). LEKSIKON IKAN DALAM SAMPIRAN PANTUN MELAYU [Fish Lexiconin Sampiranof Malay Pantun]. TOTOBUANG, 8(1), 149–163. https://doi.org/10.26499/ttbng.v8i1.202

Most read articles by the same author(s)

Obs.: This plugin requires at least one statistics/report plugin to be enabled. If your statistics plugins provide more than one metric then please also select a main metric on the admin's site settings page and/or on the journal manager's settings pages.