FUNGSI KONTEKSTUAL PERTUNJUKAN SASTRA LISAN KELONG MAKASSAR [Function of Contextual Performance of Kelong Makassar Oral Literature]
DOI:
https://doi.org/10.26499/ttbng.v8i1.182Keywords:
kontekstual, sastra, lisan, kelong, Makassar Contextual, literary, oral, MakassarAbstract
This article was intended to know the contextual function of Makassar's kelong oral literature. The data and sources of this research were Pakelong as Makassar artists. The data collection conducted were the study of documentation, in-depth interviews, and observations (field recording, recording, and photo shooting). Moreover, the data analysis stage in this study were through three steps, namely (1) reduction, (2) presentation, and (3) conclusion drawing. Based on the results of this study, it was found that there were four contextual functions of kelong, namely the function of the media of hope, the function of entertainment, the function of preserving tradition, and the educational function.Artikel ini bertujuan tuntuk mengetahui fungsi kontekstual sastra lisan kelong Makassar. Data dan sumber penelitian ini adalah pakelong sebagai seniman Makassar. Pengumpulan data yang digunakan adalah studi dokumentasi, wawancara mendalam, dan observasi (pencatatan lapangan, perekaman, dan pemotretan). Tahap analisis data dalam penelitian ini melalui tiga tahap, yakni tahap (1) reduksi, (2) penyajian, dan (3) penarikan kesimpulan. Berdasarkan hasil penelitian ini ditemukan bahwa fungsi kontekstual kelong ada empat, yakni fungsi media pengharapan, fungsi hiburan, fungsi pemertahan tradisi, dan fungsi edukatif.References
Abdullah, Irwan. (2010). Konstruksi dan Reproduksi Kebudayaan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Amaluddin. (2009). Nyanyian Rakyat Bugis: Kajian Bentuk, Fungsi, Nilai, dan Strategi Pelestariannya. Disertasi tidak diterbitkan. Malang: Universitas Negeri Malang.
Astika, I Made dan Yasa, I Nyoman. (2014). Sastra Lisan: Teori dan penerapannya. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Basang, H. Djirong. (2006). Taman Sastra Makassar. Makassar: CV Surya Agung
Mantra dan Widiastuti Sri. (2014). Fungsi dan Makna Tradisi Lisan Genjek Kadong Iseng. Jurnal Bakti Saraswati. Vol. 03 No. 02. Edisi September 2014. hlm. 31¬ — 39.
Miles, Matthew B dan Huberman, A. Michael. (1992). Analisis Data Kualitatif: Buku Sumber Tentang Metode-Metode Baru.
Terjemahan Tjetjep Rohendi Rohidi. Jakarta: Universitas Indonesia (UI- Press).
Muslimin, Muhammad Fadli. (2019). Aspek Kelisanan dan Fungsi pada Mantra Bato Peter, Mitos Menstruasi, Mantra Prosesi Drojogan, dan Sastra Lisan Lawas. Jurnal Toto Buang. Vol. 7 No 2. Edisi Desember 2019. hlm.349 — 360.
Pratiwi, Yuni, Eggy Fajar Andalas, dan Taufik Dermawan. (2017). Penelitian Sastra Lisan Kontekstual. Malang: Kota Tua.
Rosenberg, Bruce A. (1987). The Complexity of Oral Tradition. Oral Jounal.
Tradition. Vol 2 No 1. Edisi 1987. hlm.73 — 90.
Sudewa, I Ketut. (2014). Transformasi Sastra Lisan ke dalam Seni Pertunjukan di Bali:Persfektif Pendidikan. Journal Huminiora. Vol 2 No 1. Edisi Februari 2014. hlm. 65 — 73.
Sugiyono. (2013). Metode Penelitian Pendidikan: Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.
Sulistyorini, Dwi dan Andalas, Eggy Fajar. (2017). Sastra Lisan: Kajian Teori dan Penerapannya dalam Penelitian. Malang: Madani
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License

Jurnal Totobuang is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.








