BAHASA DI LINTAS BATAS: KAJIAN AKOMODASI KOMUNIKASI MASYARAKAT PERBATASAN INDONESIA-TIMOR LESTE [Cross-border Language: a Study of Communication Accomodation in Indonesian-Timor Leste Border Community]
DOI:
https://doi.org/10.26499/ttbng.v8i1.176Keywords:
akomodasi komunikasi, sikap bahasa, Tetun Terik, Tetun Porto communication accommodations, language attitudes, Tetun Terik language, Tetun Porto languangeAbstract
The RI-RDTL border community in the Motamasin (Metamauk-Salele) cross-border post consists of local people and migrants from the Timor Leste. Although the ethnic group languages used are generally the same, there are absorbing elements from other languages that distinguish them. This paper examines how communication between these two groups works. The study includes community attitudes and language choices used in their daily communication. The study showes that the percentage index of respondents' interpretations of the questions regarding attitudes towards mother tongue lies on a scale of 61–80. This shows the tendency of positive attitudes toward their mother tongue, while attitudes toward other languages range on a scale of 0–40 which shows the tendency of negative attitudes. This tendency influences the use and choiceof daily language. Local people tend to use mother tongue with their ethnic groups and migrant communities from Timor Leste. Likewise, migrants from East Timor. However, they tend to use local language when they comunicate with local people. Mother tongue language is only used with their fellow from Timor LesteMasyarakat perbatasan Republik Indonesia-Republik Demokratik Timur Leste (RDTL) di bagian pos lintas batas Motamasin (Metamauk-Salele) terdiri atas masyarakat lokal dan masyarakat pendatang (eks pengungsi) dari Timor Leste. Meskipun bahasa kelompok etnis yang digunakan pada umumnya sama, ada unsur-unsur serapan dari bahasa daerah lain yang membedakannya. Tulisan ini mengkaji bagaimana komunikasi antara dua kelompok masyarakat tersebut. Kajian mencakup sikap masyakarat dan pilihan bahasa yang digunakan oleh masyarakat lokal dan masyarakat pendatang di pos lintas batas Motamasin dalam komunikasi sehari-hari. Dalam kajian ini ditemukan bahwa indeks persentase interpretasi responden terhadap butir tanyaan yang berkenaan dengan sikap terhadap bahasa ibu terletak pada skala 61–80. Hal ini menunjukkan kecenderungan sikap positif masyarakat terhadap bahasa ibu di perbatasan RI-RDTL, sedangkan sikap bahasa masyarakat lokal terhadap bahasa daerah lain berkisar pada skala 0–40 yang menunjukkan kecenderungan sikap negatif. Kecenderungan ini memmengaruhi penggunaan dan pilihan bahasa sehari-hari. Masyarakat lokal cenderung menggunakan bahasa ibu dengan kelompok etnisnya dan masyarakat pendatang dari Timor Leste. Demikian pula dengan masyarakat pendatang dari Timor Leste yang cenderung menggunakan bahasa lokal jika berbicara dengan masyarakat lokal. Sementara itu, bahasa ibu digunakan dengan sesama penutur dari Timor Leste.References
Adyana, Sulis dan Fathur Rokhman. (2016). Akomodasi Bahasa pada Masyarakat Kota Pekalongan Etnis Jawa-Tionghoa-Arab dalam Ranah Perdagangan. Jurnal Seloka, 5(1), 88—95.
Badan Pusat Statistik Kabupaten Belu. (2019). Kecamatan Kobalima Timur dalam Angka 2019. Belu: BPS.
_____(2019). Kabupaten Malaka dalam Angka 2019. Belu: BPS.
Budiarta, I Wayan. (2013). Tipologi Sintaksis Bahasa Kemak. Disertasi. Universitas Udayana Denpasar, Bali.
Coupland, Niokolas. (2010). Accomodation Theory. Dalam Jurgen Jasper et.al. (ed.), Society and Language Use: Handbook of Pragmatics Highlight. Amsterdam: John Benjamin B.V.
Crystal, David. (2008). A Dictionary of Linguistics and Phonetics. Oxford: Blackwell Publisher.
Dhanawaty, Ni Made. (2004). Teori Akomodasi dalam Penelitian Dialektologi. Jurnal Linguistik Indonesia, Vol. 22 No. 1, 1—16.
Efendi, Dedy Trio. (2018). Komunikasi Antarbudaya Etnis Jawa dengan Etnis Banjar di Desa Teluk Dalam, Kecamatan Tenggarong Seberang. eJurnal Ilmu Komunikasi, 6(1), 83—97.
Giles, Howard et.al. (1991). Context of Accomodation. Cambridge: Cambridge University Press.
Littlejohn, Stephen W. & Karen A. Foss. (2008). Theories of Human Communication. 9th Edition. Belmont: Thomson Wadsworth.
Manhitu, Yohanes. (2007). Kamus Indonesia-Tetun, Tetun-Indonesia. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Masruddin. (2013). Influnced Factors toward the Language Shift Phenomenon of Wotunese. Jurnal Kajian Linguistik dan Sastra, Volume 25 Nomor 2, 162—192.
Matthews, P.H. (1997). The Concise Oxford Dictionary of Linguistics. Oxford: Oxford University Press.
Siregar, Bahren Umar dkk. (1998). Pemertahanan Bahasa dan Sikap Bahasa: Kasus Masyarakat Bilingual di Medan. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.
Sugiyono dkk. (2011). Akomodasi Bahasa Masyarakat Perkotaan di Indonesia. Jakarta: Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.
Susanti, Antik Ari. (2020, 21 Februari). Kehadiran Negara dalam Pengelolaan Sumber Daya Air di Perbatasan Negara Republik Indonesia-Republik Demokratik Timor Leste (RI_RDTL). Diperoleh dari https://ejournal.uksw.edu/.
West, Richard, dan Lynn H. Turner. (2008). Pengantar Teori Komunikasi: Analisis dan Aplikasi. Jakarta: Salemba Humanika.
Ylänne, Virpi. (2008). Communication Accomodation Theory. Dalam Helen Spencer-Oatey (ed.), Culturally Speaking: Culture, Communication, and Politeness Theory (hlm. 164–186). London: Continuum.
Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur. (2020, 19 Februari). Profil Perbatasan. Diperoleh dari http://nttprov.go.id/ntt/profil-perbatasan/
Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Republik Indonsia (2020, 21 Februari). Ditjen PPMD Mendukung Kampung Sejahtera di Kabupaten Malaka. Diperoleh dari https://ditjenppmd.kemendesa.go.id/index.php/view/detil/91/ditjen-ppmd-mendukung-kampung-sejahtera-di-kabupaten-malaka
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License

Jurnal Totobuang is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.








