TINDAK TUTUR DIREKTIF DALAM KHOTBAH JUMAT DI KOTA BANDUNG DAN SUKABUMI [Directive Speech Acts in Friday Sermons at Bandung and Sukabumi]
DOI:
https://doi.org/10.26499/ttbng.v7i2.162Keywords:
Pragmatik, Tindak Tutur, Direktif, Khotbah Jumat, Bandung, Sukabumi, Pragmatics, Directive Speech Acts, Friday Sermon, West JavaAbstract
Khotbah Jumat adalah rangkaian dari ibadah salat Jumat yang dilakukan oleh setiap muslim setiap pekan. Aspek kebahasaan dalam penyampaian khotbah Jumat sangat menarik untuk diteliti dan diulas lebih dalam dari sisi linguistik terutama dengan pendekatan pragmatik. Penelitian ini mencoba menganalisis penggunaan tindak tutur direktif yang terealisasi dalam khotbah Jumat di kota Bandung dan Sukabumi. Sumber data diambil dari rekaman dan observasi khotbah Jumat yang ada di beberapa masjid yang dipilih secara acak di kota Bandung dan Sukabumi. Hasil analisis data menunjukan bahwa tindak tutur tutur khotbah dengan menggunakan bentuk ajakan terlihat lebih dominan dengan menggunakan kata “ayo, kita, ayo kita, mari”. Tuturan memerintah dengan beberapa pola: verba yang diikuti partikel “lah”, verba yang diberi sufiks “kan”, dan verba yang diikuti oleh sufiks “i”. Selanjutnya, tuturan melarang yang disampaikan oleh khotib secara lugas dengan kata “tak usah, tak perlu, jangan, jangan sekali-kali. Tuturan direktif tak langsung juga disampaikan sang khotib dilakukan dengan menggunakan kalimat berita dengan memberikan gambaran manfaat, keuntungan atau sesuatu yang akan diperoleh jikalau melakukan atau tidak melakukan sesuatu.Friday’s sermon is a series of weekly prayers performed by every Muslim . The linguistic aspects in delivering Friday sermon is fascinating to be discussed and analyzed deeply in terms of religious language, especially from the pragmatic point of view. This research tries to explain the use of directive speech act that realized in Friday sermon at Bandung and Sukabumi. Sources of data were taken randomly from the recording and observation of Friday sermon in several mosques in Bandung and Sukabumi. The result of data analysis shows that the speech act of Friday sermon which using the invitation forms is more dominant by some words, such as “ayo, kita, ayo kita, mari”. Directive speech acts use several imperative patterns such as verbs followed by "lah" particles, Verb followed by suffix "kan", and verbs followed by the suffix "i". Furthermore, the prohibition speech acts were directly deliveredthrough the words "“tak usah, tak perlu, jangan, jangan sekali-kali”. Indirect directive speech acts are also performed by the khotib by using the declarative sentence through providing an overview the benefits, advantages or something to be gained if doing or not doing something.References
Alwi, Hasan. (2002). Seputar Kalimat Imperatif dalam Bahasa Indonesia di dalam Alwi, Hasan dan Dedi Sugono(editor). Telaah Bahasa dan Sastra. Jakarta: Pusat Bahasa dan Yayasan Obor Indonesia
Austin, John L. (1962). How to Do Things with Words. Great Britain: Oxford University Press.
Acheoah, John Emike, dan Hazah Abdulraheem. (2015). Style in Christian and Islamic Sermons: A Linguistic Analysis. American Research Journal of English and Literature, 1. hlm. 23-31
Albayrak, Ismail. (2012). Friday Sermons and the Question of home-trained Imams in Australia. Australian e-Journal of Theology, 19 (1). hlm. 29-42.
Farag, Heba. (2015). The Role of Culture In Translating The Sermons Of Prophet Muhammad (Pbuh). Humanities and Social Sciences Review, 04 (01). hlm. 89-101
Hidayatullah, Moch. Syarif. (2014). Bukti Hubungan Kerajaan Aceh dan Kesultanan Turki Utsmani dalam Naskah Khotbah Jihad. Jurnal Thaqãfiyyãt, 15(1). hlm 52-73
Kahveci, Niyazi. (2012). Review Politics in Muslim Friday Prayer: Jurist Qâdîkhân (d. 592/1195) . Journal of Law and Conflict Resolution Vol. 4(4). hlm. 54-61
Kridalaksana, Harimurti. (1993). Kamus Linguistik. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Leech, Geofrey. (1990). Principles of Pragmatics. New York: Longman Group limited
Levinson, C. Stephen. (1983). Pragmatics. Cambridge University Press.
Mahsun. (2005). Metode Penelitian Bahasa: Tahapan, Strategi dan Tekniknya. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada
Muzaiyanah. (2016). Linguistik Kultural Analisis Wacana Khotbah Jumat . Jurnal Wardah, 17(1). hlm. 17-34.
Munif Zarirruddin Fikri bin Nordin dan Che Su binti Mustaffa. (2013). An Analysis of Waqaf and Zakat Information in Friday Sermons. Journal of Middle Eastern and Islamic Studies (in Asia),7 (2), 96-120
Muhyiddin, Luthfi. 2013. Gaya Bahasa Khotbah Jum’at (Kajian Pola Retorika). Jurnal At-Ta’dib, 8 (2), 300-315
Ramlan. (2005). Ilmu Bahasa Indonesia: Sintaksis. Yogyakarta: CV Karyono
Saddhono, Kundharu. (2012). The Discourse of Friday Sermon in Surakarta a Socio-pragmatic Study. Jurnal Wacana, 14 (1). hlm.145–153
Saddhono, Kundharu dan I Dewa Putu Wijana. (2011).Wacana Khotbah Jumat di Surakarta: Suatu Kajian Linguistik Kultural. Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, Vol. 17, Nomor 4, Juli 2011
Searle. (1975). Speech Acts: an Essay in the philosophy of Language. Cambridge: Cambridge University Press.
Sneddon, Neil. (1996). Indonesian: A Comprehensive Grammar. Australia: Routledge
Sukarno. (2013). Retorika Persuasi Sebagai Upaya Mempengaurhi Jamaah pada teks Khotbah Jumat. Jurnal Humaniora, 25 (2). hlm. 215 - 227
Sudaryanto. (2015). Metode dan Aneka Teknik Analisis Bahasa: Pengantar Penelitian Wahana Kebudayaan Secara Linguis. Yogyakarta: Sanata Dharma University Press
Sudaryat, Y., Prawirasumantri, A., Yudibrata, K. (2011). Tata Bahasa Sunda Kiwari. Bandung: Yrama Widya
Suharyo. (2012). Bentuk dan Fungsi Kode dalam Wacana Khotbah Jumat (Studi Kasus: di Masjid Baitus Salam, Tlogosari, Semarang. Nusa, 3 (-). hlm. 1-17.
Wardoyo, Cipto. (2017). Tindak Tutur Direktif dalam Teks Khotbah Jumat Berbahasa Indonesia di Website http://www.nu.or.id/. Makalah Prosiding pada Konferensi Linguistik Tahunan Atma Jaya 15, Unika Atma Jaya,
Wijana, I Dewa Putu. (1996). Dasar-dasar Pragmatik. Yogyakarta: Andi Yogyakarta.
Yule, George. (1996). Pragmatics. Hongkong: Oxford University Press.
Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan. (2017) Kamus Besar Bahasa Indonesia diakes di https://kbbi.kemdikbud.go.id/
Mubasysyarum Bih. (2018). Rukun-rukun Khutbah dan Penjelasannya diakses di https://islam.nu.or.id/post/read/86757/rukun-rukun-khutbah-dan-penjelasannya
Tuasikal, Muhammad Abduh. (2016). Arti Shalawat dan Salam. diakses di
https://rumaysho.com/14836-arti-shalawat-dan-salam.html
Kementrian Agama Republik Indonesia. (2019). Al-Qur’an dan terjemahan. diakses di https://quran.kemenag.go.id/
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License

Jurnal Totobuang is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.








